Vybes.id – Pulau Kunti Sukabumi selalu bikin orang penasaran. Namanya unik, lokasinya eksotis, tapi justru tertutup untuk umum. Pulau kecil yang berada di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) ini memang bukan destinasi wisata biasa. Ada alasan kuat di balik keputusan pelarangan masuk ke Pulau Kunti, dan semuanya berkaitan dengan alam, keselamatan, serta kearifan lokal.
Read More : Chord Alamak
Asal Usul Nama Pulau Kunti yang Sering Disalahpahami
Nama Pulau Kunti kerap dikaitkan dengan cerita horor. Padahal, penjelasannya cukup masuk akal. Di sekitar pulau terdapat gua-gua laut yang terbentuk akibat erosi gelombang selama ribuan tahun. Saat ombak menghantam rongga batuan, udara terperangkap lalu keluar dengan tekanan tinggi. Nah, dari situlah muncul suara melengking yang terdengar seperti tawa perempuan.
Fenomena alam ini kemudian dimaknai masyarakat sebagai suara kuntilanak. Bukan tanpa tujuan, penamaan tersebut jadi bentuk peringatan agar orang tidak sembarangan mendekati area karang yang tajam dan berbahaya. Kearifan lokal, sederhana tapi efektif.
Status Pulau Kunti sebagai Kawasan Cagar Alam
Pulau Kunti termasuk dalam kawasan Cagar Alam Cibanteng. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990, cagar alam merupakan tingkat perlindungan tertinggi dalam konservasi di Indonesia. Artinya, kawasan ini tidak diperuntukkan untuk aktivitas wisata, apalagi massal.
Berbeda dengan taman nasional yang masih punya zona wisata, cagar alam murni untuk perlindungan proses alam dan penelitian. Aktivitas manusia di Pulau Kunti, termasuk swafoto dan kunjungan wisata, sejatinya sudah lama dianggap ilegal.
Nilai Geologi dan Hayati yang Sangat Rentan
Pulau Kunti menyimpan struktur batuan melange, hasil proses subduksi lempeng tektonik selama jutaan tahun. Batuan ini sangat langka dan tidak bisa diperbarui. Sekali rusak, hilang selamanya.
Read More : Nicole Kidman
Selain itu, pulau ini juga menjadi habitat pohon santigi (Pemphis acidula). Pohon pesisir ini tumbuh sangat lambat dan sering diburu ilegal untuk bonsai. Tanpa pembatasan ketat, risiko kepunahan lokal jadi nyata.
Mitigasi Risiko di Balik Penutupan Akses
Larangan masuk ke Pulau Kunti juga soal keselamatan. Lokasinya langsung berhadapan dengan Samudra Hindia yang terkenal dengan gelombang ganas. Permukaan batuan melange licin, tajam, dan tidak stabil. Risiko terpeleset, terjepit, hingga tertimpa longsoran batu sangat tinggi.
Ditambah lagi, akses medis darurat hampir tidak ada. Evakuasi bisa memakan waktu lama. Jadi, penutupan Pulau Kunti bukan sekadar larangan, tapi langkah preventif demi alam dan manusia.