vybes.id – Banjir bandang yang melanda wilayah Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, pada 28 Desember 2025 lalu meninggalkan luka panjang bagi warga. Salah satu dampak paling terasa adalah rusaknya Jembatan Nangerang yang melintasi Sungai Citalahab di Kampung Karikil. Jembatan yang selama ini menjadi jalur utama penghubung antar desa itu kini nyaris tak berfungsi, menyisakan rangka kayu miring yang mengundang bahaya.
Read More : Dinas Pendidikan Sukabumi Terapkan Absensi Wajah Di Sekolah Unggul
Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa ngerinya kondisi tersebut. Para pelajar berseragam olahraga biru tampak melangkah perlahan, meniti jembatan darurat yang condong tajam, seolah menantang arus sungai di bawahnya. Sekali terpeleset, risikonya bukan sekadar basah, tapi nyawa.
Pelajar Jadi Korban Paling Terdampak
Bagi anak-anak sekolah, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah harapan, jalan menuju masa depan. Setiap pagi, siswa dari Kampung Karikil yang bersekolah di SD Bojongkalong, MTs, hingga MA Nurohman tak punya banyak pilihan. Mereka harus menyeberangi jembatan miring itu atau memilih turun ke bantaran sungai, menyusuri bebatuan licin, lalu berjalan kaki tambahan sekitar 15 hingga 20 menit melalui jalur terjal.
Aktivitas Warga Lumpuh Total
Cece Wahyudin, warga setempat, mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat memukul kehidupan masyarakat. Jembatan Nangerang merupakan urat nadi penghubung Kampung Nangerang, Desa Bojongkalong, dengan Kampung Karikil, Desa Bojongsari. Tanpa jembatan tersebut, aktivitas ekonomi, pekerjaan, hingga urusan sehari-hari menjadi terhambat.
Menurutnya, warga kini hanya mengandalkan jembatan kecil darurat hasil swadaya. Jembatan itu pun hanya bisa dilalui pejalan kaki. Setelah menyeberang, warga masih harus berjalan menyusuri sungai dan menaiki sengkedan darurat menuju permukiman. Sebuah perjalanan yang melelahkan, apalagi bagi lansia dan anak-anak.
Penjelasan Pihak Kecamatan
Kasipem Kecamatan Nyalindung sekaligus Sekretaris Tim Satgas Penanganan Bencana Kecamatan, Pupung Budiawan, menjelaskan bahwa Jembatan Nangerang memiliki panjang sekitar 30 meter dan berstatus jalan lingkungan yang berada di bawah kewenangan desa. Kerusakan jembatan mencapai sekitar 50 persen, dengan sebagian besar pijakan kayu hanyut terbawa arus dan besi penahan gantungan roboh.
Saat ini, penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara. Jembatan kecil darurat dibuat agar warga tetap bisa melintas, meski hanya untuk pejalan kaki. Untuk perbaikan permanen, diperlukan rehabilitasi menyeluruh yang tentu membutuhkan dukungan anggaran dan koordinasi lintas pihak.
Read More : Wabup Sukabumi Sambut Delegasi Silla University, Peluang Kuliah ke Korea Makin Terbuka
Bantuan Datang, Namun Belum Cukup
Berbagai bantuan logistik telah disalurkan oleh BPBD, Dinas Sosial, DLH, PMI Kabupaten, PGRI Kecamatan, Kwarran Pramuka, relawan, OKP, hingga masyarakat umum. Namun Pupung mengakui, bantuan tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan warga. Selain terdampak langsung, ada pula warga yang terancam dan terpaksa mengungsi, sehingga roda ekonomi belum bisa kembali berputar normal.
Harapan Untuk Perbaikan Permanen
Meski beberapa jembatan kabupaten lain mulai ditangani dan bisa dilalui kembali, kondisi Jembatan Nangerang masih menyisakan tanda tanya besar. Warga berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan permanen.
Bagi mereka, jembatan ini bukan hanya penghubung wilayah, tapi juga pengikat harapan agar anak-anak bisa bersekolah dengan aman dan kehidupan kembali berjalan tanpa rasa waswas. Selama jembatan itu masih miring dan rapuh, setiap langkah di atasnya adalah doa yang tak terucap.